Minggu, 21 April 2013
Cintaku Berawal dari SMS Nyasar
Hari itu tanggal 3 Agustus 2012, tepatnya pada bulan Romadhon. Pada pagi hari aku hendak mengirim pesan singkat atau yang sering disebut dengan sms kepada temanku. “Rin, maaf ya aku tidak bisa mengikuti tadarus itu” tulisku didalam pesan itu. Setelah beberapa saat kemudian, handphone ku bergetar menandakan ada pesan masuk. “Rin?” jawab dia yang aku kirimi pesan tadi. “Ehh maaf ya, aku salah kirim” balasku begitu. Rasa malu pun tumbuh dibenakku. “Uhh, kenapa bisa nyasar sih?” kataku dalam hati. Tak lama kemudian orang itu menjawab lagi, “tidak apa-apa. Kalau boleh tau kau sekolah dimana?” balasnya begitu padaku. “Aku sekolah di SMPN 5 Cilacap. Memangnya kenapa?” balasku kembali. “SMPN 5 Cilacap? Aku juga sekolah disitu? Kau kelas berapa?” balasnya. Aku diam sejenak melihat pesannya yang ia kirimkan kepadaku, “ternyata ia juga anak SMPN 5 Cilacap” batinku berkata. “Aku anak kelas 7” kemudian aku membalas lagi pesan itu. “Ow, sama dong. Aku juga kelas 7. Kamu 7 apa?” tanyanya begitu. “Aku 7E, kamu?” tanyaku padanya. “Aku kelas 7H. Nama kamu siapa?” balasnya. “Namaku Putri. Lalu namamu?” tanyaku lagi. “Namaku Gigih Windu Wijaya, bisa dipanggil Gigih, Windu, ataupun Wijay” jelasnya begitu. “Aku panggil Gigih saja ya?” tanyaku kembali. “Boleh ;) ” jawabnya.
Mulai dari sms nyasar tersebut, Aku dan Gigih pun kenal, bahkan lebih dari kenal, kita berdua seperti sudah kenal sejak lama. Dari dalam benakku muncul rasa curiga akan bagaimana wajah seseorang yang bernama Gigih.
Gigih, Gigih, dan Gigih, nama itulah yang selalu memenuhi fikiranku saat ini. “Ting.. ting” bunyi suara handphoneku menandakan ada pesan masuk. Aku langsung berlari mengambil handphoneku di kamar, dan langsung membukanya. Ternyata itu sebuah sms dari Gigih. “Sore” tulisnya dalam pesan tersebut. “Sore juga” balasku begitu. “Lg apa Put?” tanyanya padaku. “Lagi duduk di teras depan rumah Gih. Kenapa memangnya?” jawabku dalam pesan. “Nggak papa kok Put” balasnya begitu. “Owh, nanti lagi ya Gih smsannya, aku mau sholat dulu udah adzan” jawabku begitu. “Iya gak apa-apa Put, aku juga mau shalat.” Balasnya padaku.
“Haii Gih” sapaku dalam sms. “Hai juga Put” balasnya begitu. Aku dan Gigih saling mengirim pesan sampai larut malam, sampai-sampai aku tak sempat belajar.
Saatnya masuk sekolah. Pagi itu semangat dalam diriku kembali untuk berkobar. “Ibu, Putri berangkat dulu ya?” ucapku pada Ibu. “Iya, hati-hati dijalan ya Put, dengarkan jika gurumu sedang menjelaskan” ucap Ibu menasihati. “Siap bu” ucapku. Aku langsung mencium tangan Ibu dan langsung berangkat ke sekolah. Setelah tiba di sekolah, aku segera menuju ke ruang kelasku. Seketika aku teringat akan Gigih, kakiku mulai melangkah, namun terhenti kembali, “Sudah nanti sajalah, aku mencarinya” dalam benakku berkata seperti itu. Akhirnya aku kembali lagi kedalam kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya sampai kegiatan belajar mengajar selesai.
“Teeettt..” bel pulang berbunyi, menandakan kegiatan belajar mengajar telah selesai. Aku berjalan menuju ke pintu gerbang, lalu mencari ayahku. Setelah aku melihat ayahku sudah menjemputku, aku segera berlari kearahnya. Aku segera naik keatas motor, dan lekas kembali ke rumah. Dijalan aku seperti mengingat sesuatu, “GIGIH!” ucapku pelan. “Oh Tuhan, aku lupa dengan itu. Aku ingin sekali tahu Gigih itu seperti apa” sesalku dalam hati. “Yasudahlah, besok kan masih ada waktu” pikirku positif. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku untuk ganti baju. Tiba-tiba handphoneku bergetar, menandakan ada pesan masuk. Ternyata itu dari Gigih, langsung kubuka saja pesan itu. “Put, kok tadi aku cari ke kelasmu, kamunya sudah tidak ada?” pesannya seperti itu. “Tadi? Kau mencariku ke kelas? Maaf ya, aku sudah pulang” balasku seperti itu. “Katanya kau penasaran denganku?” Tanya Gigih. “Tadinya penasaran, tapi kalu sudah lupa mau bagaimana lagi?” jawabku seperti itu. “Jadi kau lupa?” balasnya kembali. “Iya Gih, inget inget udah di jalan waktu pulang sekolah tadi” balasku padanya. “Ow, hari ini kau ada acara tidak?” tanyanya dalam sms. “Tidak, ada apa?” balasku. “Bagaimana sore ini kita bertemu di taman?” tawarnya begitu. “Baiklah, tapi kau sekalian bawa sepeda ya?” pintaku. “Siapp, jam 3 sore ya?” balasnya. “Sippp” balasku padanya.
Setelah jam 3 sore, aku bersiap-siap untuk menuju ke taman demi keinginanku mengetahui wajah Gigih. Setelah aku sampai disana, aku segera mencari Gigih. “Upss, aku kan belum tahu Gigih” ucapku lirih. Aku segera mengambil handphoneku dari kantung celana, lalu aku segera mengirim sms pada Gigih, “Gih, kamu dimana?” tulisku dalam sms tersebut. Tak lama kemudian Gigih pun membalas smsku. “Aku di bangku taman, yang memakai baju warna ungu” jawab Gigih dalam pesan tersebut. Lalu aku memarkir sepeda di depan taman, dan langsung menuju ketempat Gigih berada. Seketika aku melihat seorang anak laki-laki sedang duduk di bangku taman, dan memakai baju warna ungu. Sepintas aku seperti mengingat sesuatu, “Gigih” ucapku tak sadarkan diri. Tiba-tiba anak yang aku panggil itupun menengok kearah ku. “Kau Putri ya?” ucap anak itu seketika. “Iya, apakah kau Gigih?” ucapku tak percaya. “Ya, aku Gigih” ucapnya sambil tersenyum manis padaku.
Sesaat aku tak percaya bahwa yang ada dihadapanku saat ini adalah Gigih. “Sungguh tampan wajahnya” hatiku beruacap seperti itu. “Put, akhirnya kita bisa bertemu yaa? Sungguh bahagia aku” ucapnya begitu. Aku masih berada dalam lamunanku sehingga tak mendengar apa yang dibicarakan oleh Gigih. “Put? Putri?” ucapnya berusaha menyadarkanku. “Ehh., ehh.. iya” ujarku kaget. “Kok ngelamun sih?” Tanya Gigih padaku. “Nggak kok, aku nggak ngelamun. Oya tadi kau bicara apa?” Tanya Putri kembali. “Ahh sudahlah.. lupakan saja” celetuknya padaku. Aku melanjutkan lamunanku. Aku menatap dalam-dalam wajahnya. “Oh tuhan.. apakah aku menaruh hati padanya?” tanyaku dalam hati. Tak sadar, tanganku langsung ditarik oleh Gigih. “Ehh Gih, mau kemana?” tanyaku padanya. “Sudah ikut saja” ucapnya memberi jawaban. “Iya deh” ujarku menurutinya.
Saat itu aku benar-benar tak tau mau dibawa kemana diriku olehnya. Tiba-tiba dia berhenti. “Indah tidak Put?” tanyanya didekat taman bunga. “Wow, indah sekali. Aku suka itu” ucapku sambil tersenyum. Lalu Gigih memetik salah satu bunga berwarna ungu, dan memberikannya padaku. “Eh Put, kayaknya ada yang aneh deh” ucapnya menyadarkanku. “Ada apa sih Gih?” tanyaku tak mengerti. “Baju kita kembar, kau memakai baju ungu dan aku juga memakai baju ungu” ucapnya menjelaskan. “Haha.. aku memang sangat suka dengan warna ungu, entah mengapa?” jawabku keheranan. “Oh, berarti sama dong kaya aku? Aku juga menyukai warna ungu” jelasnya. “Haha” tawaku begitu. “Kita sangat sehati ya Put?” ucap Gigih. Sesaat aku tertegun mendengar Gigih berkata seperti itu. Sungguh saat ini hatiku dibuat senang olehnya. “Mungkin” jawabku pendek.
“Ting..ting” handphoneku berbunyi nyaring. Aku segera mengeluarkan handphoneku dari saku celana. “Put, cepat pulang ya. Sodara kamu sudah datang” begitu smsnya. Ternyata sms dari ibuku. “Maaf ya Gih, mungkin pertemuan kita kali ini cukup sampai sini saja. Ibuku menyuruhku agar cepat pulang” jelasku padanya. “Iya, kan besok senin kita masih bisa bertemu di sekolah” ucapnya mempersilahkanku pulang. “Oke. Aku pulang dulu ya Gih, sampai bertemu besok” ucapku sambil memberikan senyuman. Akhirnya akupun pulang kerumah. Disepanjang jalan aku tak bisa melupakan wajah tampan seorang Gigih. Kini aku benar-benar merasa bahwa aku telah menaruh hati padanya.
Keesokan harinya, Aku menyambut embun sejuk yang masih tersisa. Dalam hatiku berkata “Aku sudah tak sabar ingin bertemu Gigih”. Waktu demi waktu aku lewati, pagi, siang, sore, malam dan kembali ke pagi lagi. Dan pagi ini aku sangat bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah, karena aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan Gigih. Ketika aku sudah smpai disekolah, aku melihat Gigih yang sedang menangkap temannya karena hampir jatuh. Seakan aku yang melihatnya pun tak terima, jika orang yang aku cintai harus bermesraan dengan orang lain. “Oh Tuhan, Tolong kuatkanlah hati ini” ucapku dalam hati. Tiba-tiba Gigih langsung melihat kearahku, dan aku pun langsung berlari menuju kedalam kelas. “Putri” panggil Gigih menghentikan langkahku. Aku tak menghiraukan suara Gigih yang terus memanggilku, aku tetap berjalan menuju ke kelas.
Dikelas, aku hanya bisa berdiam diri memikirkan hal tadi yang masih berada dalam angan-anganku. Kini aku tak mempunyai semangat lagi. Tanpa aku sadari temanku memanggilku, “Put, itu dicari sama Gigih” ucap salah seorang temanku. “Bilang, aku tidak mau bertemu dengannya lagi” ucapku kasar. Akhirnya temanku bertemu dengan Gigih kembali, dan berbicara dengan Gigih seperti apa yang aku suruh. Mungkin dalam benak Gigih muncul rasa bersalah, akhirnya Gigih langsung masuk kedalam kelasku untuk menemuiku. “Put, kamu kenapa sih? Kok jadi ngacangin aku gitu?” Tanya Gigih padaku dengan rasa penuh salah. Aku tetap tidak mau menatap Gigih. “Put, liat aku!” ucapnya sambil mengarahkan kepalaku padanya. “Ahh, apaan sii?” ucapku kesal. “Kamu cemburu ya?” ucapnya bercanda. “Cemburu? ga siapa yang cemburu?” ucapku dengan nada tinggi. “Iya iya.. jangan marah lagi dong sama aku?” ucap Gigih dengan wajah memelas. “Iya deh aku maafin, yaudah sanah, balik ke kelas kamu” ucapku dengan memberikan senyuman bohong. “Iya iya, aku balik dulu ya Put” ucap Gigih membalas senyumanku. “Iya” ucapku singkat. Setelah Gigih pergi, sebenarnya rasa cemburu itu masih ada, namun aku segera menghadirkan pikiran positifku untuk tidak mengungkit masalah tadi pagi. Aku mencoba melupakannya tapi usaha itu tak berhasil, aku berfikir apakah itu wanita yang disukai Gigih? Atau mereka sudah jadian? OH TIDAK!
Setelah hari kemarin berlalu, aku mencoba tak lagi mengungkit masalah itu. Dan akhirnya aku bisa. Saat aku memasuki gerbang sekolah, aku melihat Gigih yang sedang bermain bola. Aku memandangi Gigih sedalam-dalamnya, tak sadar bola itu mengenai kepalaku. “Aduhh” ucapku merasa kesakitan. “Maaf ya Put, aku tidak sengaja” ucap Gigih meminta maaf. “Tidak apa, kau tak salah. Mungkin aku yang terlalu teledor” ucapku menyalahkan diriku sendiri. “Tidak, aku yang salah, aku tak melihatmu jika kau berdiri disini” ucap Gigih menyalahkan dirinya pula. “Ahh.. sudahlah, mungkin kita berdua memang sama-sama teledor” ucap Putri. “Ehh berarti kita sehati nih?” ucap Gigih menggodaku. “Ihh Gigih bisa aja, aku masuk ke kelas dulu ya?” ucapku padanya. Sepanjang aku berjalan ke kelas, aku tersenyum sendiri memikirkan tentang Gigih yang selalu berkata sehati denganku. Ini yang membuatku percaya, bahwa Gigih belum mempunyai pacar.
*Saat liburan sekolah tiba..
“Gigih liburan kali ini kau mau pergi kemana?” tanyaku pada Gigih dalam sms. “Aku gak pergi kemana-mana Put” jawabnya begitu. “Ohh” balasku singkat. “Kalau kamu Put? Mau liburan kemana?” tanyanya padaku. “Liburan kali ini, aku mau mengunjungi kakek di Jogja” jelasku dalam sms tersebut. “Ow” jawabnya pendek.
Kira-kira aku liburan ke Jogja selama 2 minggu. “Oh tidak, berarti aku akan berpisah dengan Gigih selama 2 minggu?” tanyaku dalam hati. Saat itu aku sedih, karena harus berpisah dengan orang yang aku cintai selama 2 minggu, waktu yang cukup lama. Aku mencoba bersabar, toh masih ada handphone yang masih bisa digunakan untuk sarana komunikasi kan?.
Keberangkatanku ke Jogja.
Sebelum aku berangkat ke Jogja, aku pamit kepada Gigih, bahwa aku akan meninggalkannya selama 2 minggu. “Gigih, aku mau berangkat dulu ya ke Jogja?” pamitku dalam sms. “Iya Put. Hati-hati dijalan ya?” Gigih mengeluarkan nasihatnya. “Gih, aku pasti bakal kangen banget sama kamu” balasku kembali. “Aku juga pastinya bakal kangen banget sama kamu” balas Gigih mengungkapkan perasaannya yang sama sepertiku.
Selama aku di Jogja, aku selalu mengirim sms kepada Gigih sebagai pengganti rasa rinduku padanya. Disana, aku selalu membayangkan wajahnya yang sangat amat tampan.
*kembali bersekolah..
Setelah liburan akhir semester 1 kemarin, aku kembali masuk sekolah. Dan kembali lagi, semangatku kembali bangkit, dan dengan alasan yang sama karena hari ini aku akan bertemu dengan Gigih. “Hai Put” sapa Gigih sambil menepuk pundakku. “Hai Gih” sapaku kembali padanya sambil memberikan senyuman. “Put, nanti sehabis sekolah, aku tunggu kau di dekat empang belakang sekolah ya?” tawar Gigih padaku. “Baiklah” jawabku singkat.
Setelah kegiatan sekolah selesai, aku segera berlari menuju empang. Dan ternyata, Gigih belum ada disana. Rasa kecewa pun menghampiriku. Aku menunggu Gigih 15 menit, dan akhirnya Gigih pun muncul dihadapanku. “Maaf ya? Tadi aku dipanggil sama pak Guru” jelasnya padaku. “Iya tidak apa-apa” ucapku menyembunyikan rasa kesalku. “Jadi, ada apa kau ingin bertemu denganku disini?” tanyaku penasaran padanya. “Begini Put, emm…” ucapnya gugup. “Kamu bicara apa sih Gih? Gak jelas banget?” Tanya Putri menambah rasa penasarannya. “Jadi gini Put, a a aku, suka sama kamu” ucapnya masih dalam keadaan gugup. “Kamu suka aku?” tanyaku kembali penuh dengan rasa tidak percaya. “Iya Put, mau tidak jadi pacarku?” ucapnya dengan rasa penuh percaya diri. “Emm.. gimana ya? Aku bingung” ucap Putri tak menentu. “Jika tidak mau juga tidak apa-apa” ucapnya lesu. “Aku mau jadi pacarmu” bisikku ditelinganya. “Sungguh?” ucap Gigih tak percaya. “Iya Gigih. Dari dulu aku menyimpan rasa suka padamu, dan aku tidak pernah berani untuk menyatakannya padamu.” Ucapku memberikan alasan. “Jadi sekarang, kita pacaran?” Tanya Gigih. “ ” jawabku memberikan senyuman. “Cintaku berawal dari sms nyasar” ucapku padanya. Gigih pun tertawa setelah aku mengatakannya. Melihat Gigih tertawa terbahak-bahak, aku pun ikut tertawa juga.
Cerpen Karangan: Putri Novitasari
-->Aku tulis lagi<--
Waktu Yang Tak Dapat Kembali
5 januari 2012
Tertegun ku memandang monitor di depan mataku, tangan ku ini berasa kaku untuk melanjutkan pekerjaan ku. Setumpuk kertas masih tersusun di meja kerjaku, masih sedikit yang bisa ku selesaikan hari ini, aku tertunduk lesuh. Ku selesaikan sedikit demi sedikit pekerjaan ku ini, meski aku merasa kurang enak badan. Jam menunjukan pukul 17.00 pertanda jam kerjaku selesai, ku beranjak dari tempat kerjaku dan langsung menuju kampusku. Tapi dari tadi aku merasa ada yang ga enak dengan perasaanku ini, tapi tetap ku melaju menuju tempat ku menuntut ilmu.
Mata kuliahpun selesai dan aku segera pulang kerumah. Ku lempar tasku dan bergegas tuk segera mandi, rencana setelah mandi dan sholat isya, aku akan segera pergi tidur dengan keadaan ku yang kelelahan. Baru sebentar ku merebahkan tubuhku di tempat tidur, ponsel ku bordering terpampang sebuah nomor yang tak bernama.
“Hallo, Assalamu’alaikum” ucapku
“Wa’alaikum salam, bisa bicara dengan Ina?” jawab dari seberang yang terdengar agak bising.
“iya, dengan siapa ya ini?” tanyaku
“Na, ni aku Doni… aku mau kabarin kamu kalau si Raka kecelakaan dan dia sekarang menuju ke Semarang tuk di makamkan di kampung halamanya”
Aku terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Jantungku terasa berhenti berdetak saat itu juga, ponsel yang ku pegang terjatuh dan tak ku dengar lagi suara dari arah seberang. Air mataku mengalir deras seketika, dalam keadaan yang sangat kalut ku ambil tas ranselku, jaket serta dompet dan segera ku memakai sepatu. Aku menuju ke ruang tengah untuk berpamitan pada ayah dan ibuku yang sedang menonton TV di sana beserta kakaku.
Setelah kujelaskan, Ayah dan Ibuku pun mengizinkanku untuk ke Semarang menghadiri pemakaman Raka dengan syarat di temani kakaku Aldi. Kami pun langsung menuju terminal untuk ke Semarang, beruntung ada bus yang belum berangkat pada jam 22.30. Dalam perjalanan air mataku terus mengalir walau kak Aldi terus menghiburku. Kal Aldi pun ga berani bertanya banyak kepadaku tentang Raka, dia hanya mencoba menasehatiku untuk sabar dan Ikhlas. Rasanya ingin sekali aku cepat sampai di kediaman Raka dan ingin melihat nya untuk yang terakhir kalinya. Yang aku rasakan perjalanan malam itu pun sangat lama sekali.
Jam 08.00 pagi aku sampai di semarang, aku dan kakaku pun langsung menuju kerumah Raka.
Dan benar adanya di rumah Raka sudah Nampak banyak orang berkumpul dengan air mata yang berlinang. Aku masih tertegun memandang sesosok tubuh yang kaku dan sudah tertutup kain dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Nampak pula seorang wanita yang sudah tak asing lagi di mataku Wina (yag ku ketahui tunangan Raka) di samping kanan jasad Raka. Jantungku semakin berdetak kencang setelah ku mendekat di samping Raka.
Ku tahan air mataku, dan berbisik pelan di depan kedua orang tua Raka.
“Pak, bu… bolehkah saya melihat Raka untuk yang terakhir kali nya?”
Orang tua Rakapun mengangguk pertanda menyetujui permintaanku. Ku buka kain yang menutupi wajah Raka, kupandangi wajahnya yang sudah tak akan bisa ku lihat lagi untuk kedepanya. Di raut wajah Raka tampak masih segar, masih ganteng seperti dulu saat aku bersamanya, aku pun membaca ayat untuk mendoakan Raka. Tiba tiba Ibu Raka memeluku erat sekali, aku masih menahan airmataku yang menggenang di mataku, aku ingin sekali menyaksikan pemakaman Raka jangan sampai aku tak melihatnya hanya karna aku ga kuat untuk melihatnya. Tubuhku serasa kaku, jantungku seperti berhenti berdenyut dan darahku berasa naik dari ujung kaki ke kepala. Sayup sayup kudengar ucapan Ibu di telingaku “maafin Raka dan Ibu yang selama ini mungkin membuat Ina sedih”
Aku tetap terdiam menyaksikan jalannya pemakaman Raka. Selesai di makamkan tubuhku serasa tak bergerak dan tak sadarkan diri.
Saat aku terbangun sudah ada Ibu, ayah Raka dan kakaku Aldi di sampingku.
“kak Aldi” panggilku lirih
Kak aldi pun mendekatiku dan membantuku untuk duduk. Ibu Raka pun kembali memeluku dengan tangisanya yang kencang tepat di telingaku.
“Na, kalau bukan karna Ibu mungkin ga akan seperti ini” ucap beliau tepat di telingaku
Ku biarkan Ibu Raka memeluk dan mencium keningku, padahal dalam hati bertanya “ada apa ini sebenarnya?” aku tak mengerti sama sekali.
“kenapa bu?, semua ini sudah takdir dari allah Bu, Ibu ikhlaskan saja kepergian kak Raka” Jwabku dengan bibir gemetar.
Ibu Raka pun melepaskan pelukanya, tapi dia hanya berkata “iya, kamu bener Ina… Ibu takut kamu terpukul dengan kejadian ini”
“Bukan saya yang harus ibu khawatirkan bu, Tapi Wina… dia yang butuh perhatian dari Ibu dan bapak. Dia yang tunangan Raka bukan saya” lanjutku
“Ibu menyesal memisahkan kamu dan Raka dan menjodohkan dia dengan wanita pilihan Ibu” terang Ibu Raka
“Ibu, semua ini sudah Takdir dari yang maha Kuasa, Ibu jangan menyesal, Ibu ga salah.. setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, dan saya juga menghormati keputusan Ibu. Saya Ikhlas bu, sekarang Wina dimana bu?” tanyaku
Wajah Ibu Raka tampak seperti orang kebingungan, Seakan ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan kepada ku. Sesekali beliau ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan karna beliau melihat Wina menghampiri kami.
Wina langsung memeluku erat seperti dia sudah lama tak bertemu denganku. Aku juga sangat heran melihat perilakunya yang menurutku agak aneh. Tiba tiba dia menyerahkan sebuah cincin ke tanganku. Dengan wajah keheranan aku pun bertanya “apa ini Win?”
“itu punya Raka, dia menyimpan ini sebelumnya untukmu, tapi aku terlanjur melihatnya lebih dulu dan kusangka itu untukku tapi ternyata tertulis namamu dan Raka dibelakangnya” jelasnya kemudian
Aku menginap semalam sebelum kembali ke Jakarta paginya bersama kak Aldi. Masih banyak pertanyaan setelah kejadian aku pingsan kemarin, Semua keluarga Raka tiba tiba bersikap baik terhadapku, padahal sewaktu aku bersama Raka mereka seperti ga suka terhadapku kecuali ayahnya. Walau masih banyak pertanyaan dan kejadian yang tak ku mengerti selama di rumah Raka, tapi aku harus kembali ke Jakarta. Akupun pamit dengan keluarga Raka untuk kembali ke Jakarta.
Di perjalanan menuju Jakarta ku pilih kereta untuk kembali ke Jakarta. Ponsel yang dari kemarin sengaja ku matiin pun ku hidupkan kembali, banyak sms, bbm, mention twiter dan pemberitahuan panggilan masuk dari teman kerja dan kuliahku bergantian masuk ke ponselku. Tak kujawab dan kembali ku matikan ponselku. Kakaku duduk di sampingku dan selalu menyemangatiku dgn keadaan ku yang sekarang ini. Kakaku pun tertidur, aku masih menikmati kereta melaju dengan cepat. Anganku melayang dan tertuju pada sosok Raka, masih teringat kenangan kenangan bersamanya dulu. Sampai akhirnya kami terpisah karena Ibu Raka tak menyetujui hubunganku dengan Raka kala itu.
****
Aku dan Raka bertemu saat aku masih satu kantor dengan dia. Waktu itu di kantin saat istirahat, aku sedang menikmati makan siang bersama teman temanku dia menghmpiriku, dan teman temanku pun pindah meja mempersilahkan kami tuk makan bersama. Aku yang kala itu tak mengenalnya, hanya dengar cerita dari teman teman kalau ada yang sering memperhatikanku dan mencari informasi tentangku. Ya itu Raka. Kami pun langsung akrab waktu itu karna aku yang cerewet dan humoris.
“Ina, boleh minta nomer HP nya ga?” Tanya Raka
“Hemmmm… boleh” jawabku sambil menyebutkan nomer HP ku, ku sembunyikan muka merahku.
Singkat waktu kami pun semakin hari semakin dekat, sampai satu kantor menggosipkan aku dengan Raka.
Hari minggu tanggal 1 agustus 2010 jam 14.00 dia datang kerumahku, penampilanya rapi aroma parfumnya yang khas yang aku suka membuatku semakin terpikat dengan Raka. Raka mengajaku untuk jalan jalan sebentar, karna aku ada keperluan untuk membeli sebuah buku jadi aku mengusulkan untuk pergi ke ke toko buku.
Kami pun sampai di toko buku yang berada di mall di Jakarta Utara. Raka mengikutiku dari belakang yang sedang sibuk mencari buku yang aku cari. Tiba tiba dia memegang tanganku, aku pun otomatis berhenti mencari buku dan tersenyum pada Raka.
“Ada apa kakak?” tanyaku
“Ke sini deh mendekat sebentar” jawabnya kemudian sambil menariku mendekat ke arah nya.
Lalu Raka mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berkata “Aku sayang Ina, Ina mau ga jadi pacarku?”
Tak bisa mengungkapkan kata kata, aku terdiam ingin tersenyum tapi ku tahan yang aku rasakan aliran darahku terasa mengalir deras di sekujur tubuhku, Jantungku berdetak sangat kencang, tiba tiba kaki ku terasa dingin dan gemetaran. Raka semakin kencang menggenggam tanganku, menatap wajahku dengan tatapan penuh harapan. Diapun mengulangi ucapanya “Mau ga jadi pacar kakak?”
Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya “iya, Ina mau” jawabku lirih
Raka pun tersenyum sumringah sambil terus menggenggam tanganku erat sekali. Setelah aku menemukan buku yang aku cari, kami pun pergi untuk makan di KFC dekat toko buku itu.
Masih dengan wajah berbinar binar Raka terus memuji dan menggodaku dengan rayuanya.
“Kenapa kak Raka suka sama aku?” jawabku di sela canda tawa Raka
“hemmm… kenapa ea? … karna kamu manis, baik sama semua orang, suka menolong, cerewet dan ga bisa diem” Jawab Raka sembari memencet hidungku yang memang tak mancung.
“Terus kenapa kamu mau jadi pacar kakak?” balas Raka bertanya padaku
“hehe…” jawabku sambil nyengir
“kenapa malah nyengir begitu, jadi tambah jelek kan?” goda Raka
“iiiihhhhhh…” Ucapku manja sambil mencubit lengan Raka.
Selesai makan kami pun memutuskan untuk pulang.
Enam bulan berlalu, ternyata Ibu Raka tak menyukaiku. Aku tak tau harus berbuat apa, karena aku sendiri memang tak bisa menjalani hubungan jika tak mendapat restu dari keluarga. Ku putuskan untuk berpisah dengan Raka, meski aku masih sangat menyayanginya. Begitupun dengan Raka, karena kami sudah berbuat banyak untuk mendapat restu dari ibunya namun hasilnya Nihil.
***
Ku buka buku yang di berikan padaku oleh Ibu Raka sewaktu pamit pulang ke Jakarta. Ku baca bismillah dan ku baca tulisan di buku itu, tulisan itu sangat ku kenal, tulisan tangan Raka.
Halaman pertama.
2 Februari 2011
My Dear Ina yang slalu ada dalam hatiku.
Perpisahan ini sungguh membuatku terluka. Aku menyayangimu, aku mencintaimu, tapi aku juga menyayangi keluargaku terutama Ibuku, mungkin ini jalan terbaik untuk kita. Jikapun kita berjodoh kita akan di pertemukan kembali, karena tulang rusuk tidak akan pernah tertukar. Semoga kamu bisa bahagia tanpaku…
Maaf aku tlah mengecewakanmu, maaf aku tak bisa menepati janji janjiku…
Aku akan selalu menyayangimu Ina..
***
Halaman ke dua
30 Agustus 2011
My dear Ina..
Hari ini tepat setahun kita bersama. Masih ku ingat wajahmu yang malu malu saat ku nyatakan cinta. Sampai saat ini aku masih belum bisa melupakanmu. Dan kemarin Ibuku menjodohkanku dengan Wina, wanita yang baik menurut ibuku. Namun aku tak bisa menggantikanmu dengan dia. Aku ingin menolak namun aku tak bisa menolak keinginan Ibuku.
Aku ini lelaki bodoh, tak bisa berbuat apa apa…
Ina… maafin aku… maaf… maaf
***
Halaman ketiga
5 Januari 2012
My Dear Ina
Hari ini aku merasa sangat merindukanmu. Ingin ku menemuimu namun aku tak sanggup. Aku takut melukai perasaanmu kembali jika aku menemuimu kelak.
Aku dengar kamu sudah mempunyai pacar lagi, aku sangat senang mendengarnya. Aku turut bahagia karena akhirnya kamu membuka hati untuk yang lain. Ku panjatkan doa semoga kamu bahagia. Ina sayang… aku ingin melihat wajahmu yang sudah lama tak ku pandang. Terakhir ku lihat setahun yang lalu, itu pun kamu acuh terhadapku.
Ina… aku hanya ingin minta maaf, karena tak bisa menepati janji janjiku dulu. Ina sayang aku berdoa semoga kamu bahagia… aku disini selalu mencintaimu.
Aku kembali meneteskan air mataku. Tulisan ini yang bisa ku lihat sekarang, tulisan terakhir Raka sebelum kecelakaan. Aku memang membencinya, waktu itu namun itu karena aku takut jika aku terus mengharapkanya. Ternyata Raka masih menyayangiku sampai terakhir hidupnya.
Cerpen Karangan: Nafisa
-->Tak tulis maneh Bray<--
Selasa, 02 April 2013
Langganan:
Postingan
(
Atom
)